Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)

Istilah model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan terjemahan dari Problem Based Instruction (PBI). PBI merupakan model pembelajaran  yang merujuk pada pendekatan PBL (Problem Based Learning) yaitu suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah kehidupan sehari-hari sebagai suatu kontekstual bagi siswa untuk belajar tentang berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran.

Dalam model pembelajaran ini, pada awal pembelajaran siswa dihadapkan pada situasi permasalahan yang menarik dan relevan dengan kehidupannya sehari-hari. Dari situasi yang disajikan, siswa diharapkan dapat menemukan dan menyadari permasalahan yang muncul, kemudian menganalisis kebutuhan apa saja yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa belajar memahami konsep atau prinsip dari suatu materi dengan tujuan untuk menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi melalui proses inkuiri. Dalam proses penyelesaian masalah siswa membangun konsep atau prinsip dengan kemampuannya sendiri. Dalam PBI, siswa diberikan kebebasan untuk berfikir dan mengemukakan idenya tanpa dijejali konsep secara verbal terlebih dahulu dengan suasana lingkungan belajar yang terbuka. Sebagai suatu model pembelajaran, PBI memiliki landasan teoritis, karakteristik, dan sintaks pembelajaran.

 

Teori Belajar yang Melandasi Model Pembelajaran PBI

Teori belajar yang mendasari dilaksanakannya model PBI yaitu teori belajar konstruktivisme, salah satunya dikemukakan oleh Jan Piaget (1967). Menurut Piaget (Dahar, 1996:159), pengetahuan sosial seperti nama-nama hari dalam seminggu atau lambang unsur-unsur dalam ilmu kimia dapat dipelajari secara langsung yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa, namun pengetahuan fisika dan logika matematika tidak dapat diberikan dalam bentuk jadi melainkan anak harus membangun sendiri pengetahuan-pengetahuan tersebut.

Teori belajar lain dikemukakan oleh David Ausebel (1968). Ausebel (Dahar, 1996) membedakan antara belajar bermakna (meaningful learning)  dan belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna merupakan suatu proses menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Selain itu Ausebel juga membedakan belajar penemuan dengan belajar penerimaan. Pada belajar penerimaan bentuk akhir yang diajarkan dengan cara diberikan sedangkan pada belajar penemuan bentuk akhir itu harus dicari siswa. Menurut teori belajar bermakna (Dahar 1996:111), belajar penerimaan dapat menjadi belajar bermakna dengan cara menjelaskan hubungan antara konsep-konsep dan belajar penemuan yang bermakna hanya terjadi pada penelitian yang bersifat ilmiah.

Teori belajar yang paling mendasari model PBI yaitu teori belajar penemuan (discovery learning) yang dikemukakan oleh Jerome Bruner (1996). Menurut Bruner dalam Koes, H Supriyono (2003:153), belajar penemuan sesuai dengan pembentukan pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.

Bruner (1973) mengemukakan (dalam Dahar, 1996:101) bahwa persepsi seseorang tentang suatu peristiwa merupakan suatu proses konstruktif. Jadi seseorang tidak dianggap sebagai organisme yang pasif tetapi seseorang yang memilih informasi secara aktif. Menurutnya (dalam Dahar, 1996:103) pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan memiliki beberapa dampak positif yaitu : 1) pengetahuan yang diperoleh lebih bertahan lama dari pada diperoleh dengan cara lain, 2) hasil belajar penemuan memiliki efek transfer yang lebih baik artinya konsep-konsep yang telah dimilki lebih mudah diterapkan pada situasi-situasi baru, 3) belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir bebas.

 

Karakteristik Model Pembelajaran PBI

PBI merupakan suatu model pembelajaran yang menuntut aktifitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masa yang disajikan pada awal pembelajaran masalah yang disajikan pada siswa merupakan masalah kehidupan sehari-hari/kontekstual, (Ratnaningsih 2003:25). Model pembelajaran ini dirancang dengan tujuan agar siswa mampu menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh-kembangkan keterampilan yang lebih tinggi, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan diri, guru pada prakteknya hanya sebagai fasilitator, membantu dan mengarahkan siswa dalam belajar sehingga mereka benar-benar dapat menyusun pengetahuannya sendiri, yang pada akhirnya diharapkan dapat memahami konsep dengan baik.

Dalam PBI, Situasi atau masalah yang menjadi titik tolak pembelajaran. Adapun karakteristik masalah dalam PBI adalah bahwa masalah yang disajikan merupakan situasi atau masalah yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari siswa (kontekstual), dan situasi atau masalah yang dihadapkan dapat diselesaikan melalui kegiatan penyelidikan (investigation) atau penemuan (inquiry). Dalam pembelajaran siswa tidak diberikan masalah dengan pertanyaan secara langsung melainkan melalui tahap-tahap mulai dari penyajian fenomena, situasi, demonstrasi atau sumber lainnya. Dari situasi yang disajikan, siswa diarahkan untuk menyadari adanya masalah. Pada tingkat yang lebih tinggi siswa mampu menemukan sendiri permasalahan yang muncul dari fenomena tersebut tanpa harus diberikan arahan terlebih dahulu.

Departemen Pendidikan Nasional (2004:10) menyatakan bahwa PBI merupakan bagian dari pembelajaran kontektual. Menurut Departemen Pendidikan Nasional yang dimaksud pembelajaran kontekstual adalah konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran yaitu: konstruktivisme (contuktivism), bertanya (question), menemukan (inquiry), komunitas belajar (learning comunity), pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penilain sebenarnya (autentic assesment).

Model Pembelajaran PBI memiliki ciri khusus antara lain:

  1. Pengajuan pertanyaan atau masalah

Pertanyaan atau masalah yang diajukan adalah suatu masalah yang berhubungan dengan kehidupan nyata serta memilki beberapa alternatif jawaban, sehingga siswa bebas untuk mengemukaakan pendapat sebagai solusi dari masalah yang disampaikan.

  1. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin

Suatu masalah yang disampaikan pada pembelajaran  berdasar masalah sedapat mungkin dapat ditinjau dari beberapa disiplin ilmu.

  1. Penyelidikan autentik

Siswa harus berperan aktif dalam menyelesaikan masalah melalui penyelidikan yang didasarkan pada metode ilmiah. Kegiatan penyelidikan merupakan suatu kebutuhan dalam memahami suatu konsep. Siswa diarahkan untuk menemukan dan membangun sendiri konsepnya. Menemukan dalam hal ini bukanlah dalam arti menemukan hal yang baru melainkan hanya reinvitation atau penemuan kembali untuk menyelesaikan masalah, menyusun hipotesis, melakukan eksperimen bila di perlukan, dan mengambil kesimpulan.

  1. Kerja sama

Pembelajaran berdasar masalah sangat menekankan pada kerja sama antar siswa dalam suatu kelompok kecil. Kerja sama dapat menolong berbagai inquiry dialog untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir. (ismail 2004)

  1. Menghasilkan produk serta mempresentasikannya

Permbelajaran berdasar masalah menuntut siswa untuk dapat menghasilkan suatu produk karya. Produk yang dihasilkan dapat berupa laporan atau model fisika tentang apa yang telah mereka pelajari dan temukan dalam kegiatan penyelidikan kemudian mempresentasikannya di depan kelas.

Kelebihan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Instruction) diantaranya: (1) Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pengaplikasian konsep pada masalah. (2) Menjadikan siswa aktif dalam belajar lebih mendalam (deep learning). (3) Meningkatkan siswa untuk membangun keterampilan dan pemecahan masalah. (4) Meningkatkan pemahaman melalui dialog dan diskusi dalam kelompok. (5) Belajar peranan orang dewasa yang autentik. (6) Menjadi pebelajar yang mandiri. Sedang kelemahan dari model pembelajaran Problem Based Instruction yaitu memerlukan waktu untuk mengembangkan dasar pengetahuan dan keterampilan akademis, memerlukan cara berfikir divergen yang sukar dites dan dievaluasi. Secara garis besar PBI terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Peranan guru dalam PBI adalah mengajukan masalah, memfasilitasi penyelidikan dan dialog siswa, serta mendukung belajar siswa.

Pada saat menerapkan model PBI, Savote dan Hughes (1994) dalam Lia Laela Sarah (2005) mengemukakan bahwa saat pemecahan masalah, proses yang dialami siswa adalah:

  • Engagemen ( siswa diperankan aktif sebagai pemecah masalah).
  • Inquiry (siswa bekerja sama dengan yang lainnya untuk menemukan dan mengumpulkan informasi melalui kegiatan penyelidikan).
  • Solution Building (siswa bekerja sama melakukan diskusi untuk menemukan penyelesaian masalah yang disajikan).
  • Debriefing and reflection (siswa menlakukan sharing mengenai pendapat dan idenya dengan yang lain melalui kegiatan Tanya jawab untuk mengevaluasi proses dan pemecahan masalah).
  • Presentation of finding ( siswa menuliskan rencana, laporan kegiatan atau produk lain yang dihasilkannya selama pembelajaran kemudian mempresentasikannya kepada yang lain misalkan di depan kelas).

PBI diorganisasikan disekitar situasi kehidupan yang nyata yang menghindari jawaban yang sederhana dan mengundang pemecahan yang bersaing. Adapun ciri-ciri utama PBI adalah suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, suatu pemusatan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerja sama serta menghasilkan karya dan peragaan.

Model pengajaran ini sangat efektif untuk mengajarkan proses-proses berfikir tingkat tinggi, membantu siswa memproses informasi yang telah dimilikinya, dan membantu siswa membangun sendiri pengetahuannya tentang dunia sosial dan fisik disekelilingnya. Pembelajaran berdasarkan permasalahan bertumpu pada psikologi kognitif dan pandangan para konstruktifis mengenai belajar. Model pengajaran ini juga sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsip Contectual Teaching Learning (CTL), yaitu inkuiri konstruktivisme dan menekankan pada berfikir tingkat lebih tinggi.

 

Sintaks Model PBI

PBI biasanya terdiri dari lima tahap utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Kelima tahapan tersebut disajikan pada tabel 1 berikut:

TABEL MODEL SINTAKS PBI

FASE-FASE TINGKAH LAKU GURU
FASE 1

Orientasi siswa kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
FASE 2

Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
FASE  3

Menbimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan  informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
FASE 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya sesuai seperti laporan, vidio, model dan membantu mereka untuk membagi tugas dengan temannya
FASE 5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan prose-proses yang mereka gunakan.

                                                     

PBI tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. PBI utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual. Belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri.

Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) | admin | 4.5