Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif yang menekankan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) ini pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagan pada tahun 1993 untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan untuk mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut (Trianto, 2009: 82).

Menurut Spenser Kagan dalam Trianto (2009: 82) menyatakan bahwa secara garis besar fase-fase pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) terdiri dari empat fase sebagai sintaksnya, yaitu fase penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan menjawab.

Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)

Fase Aktivitas Guru
Fase 1: Penomoran Guru membagi siswa ke dalam kelompok yang terdiri dari 3-6 orang. Kemudian, dari setiap anggota kelompoknya diberi nomor antara 1 sampai 6.
Fase 2: Mengajukan pertanyaan Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat bersifat spesifik dengan menggunakan bentuk kalimat tanya atau pertanyaan berbentuk arahan.
Fase 3: Berpikir bersama Guru memberikan kesempatan kepada siswa-siswa berdiskusi secara berkolompok selama beberapa waktu.
Fase 4: Menjawab Guru memanggil suatu nomor tertentu (bisa dengan cara diundi), kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangan dan mencoba untuk menjawab pertanyaan/presentasi untuk seluruh kelas.

Penjelasan tentang fase model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT):

Fase 1: Penomoran

Dalam fase ini, guru membagi siswa ke dalam kelompok yang terdiri dari 3-6 orang. Kemudian, dari setiap anggota kelompoknya diberi nomor antara 1 sampai 6. Nomor inilah yang akan menjadi identitas siswa dalam proses pembelajaran.

 

Fase 2: Mengajukan pertanyaan

Pada fase ini, guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat bersifat spesifik dengan menggunakan bentuk kalimat tanya atau pertanyaan berbentuk arahan. Pertanyaan atau masalah yang diberikan guru dimaksudkan agar para siswa mencari solusi atau jawaban dari pertanyaan atau masalah tersebut.

 

Fase 3: Berpikir bersama

Pada fase ini, siswa menyatukan pendapatnya dan meyakinkan tiap anggota dalam kelompoknya mengetahui jawaban kelompok.

 

Tahap 4: Menjawab

Setelah siswa-siswa berdiskusi secara berkelompok selama beberapa waktu, guru memanggil suatu nomor tertentu (bisa dengan cara diundi), kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangan dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Karena konsep yang digunakan sebagai jawaban dirangkai menggunakan bahasa para siswa bukan bahasa buku atau bahasa guru maka konsep akan lebih dimengerti.


Berdasarkan penjelasan tentang model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) diatas maka dapat disimpulkan bahwa siswa pada awal pembelajaran dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 3-6 orang. Kemudian, dari setiap anggota kelompoknya diberi nomor antara 1 sampai 6. Nomor inilah yang akan menjadi identitas siswa dalam proses pembelajaran. Selanjutnya siswa dihadapkan pada suatu persoalan atau permasalahan yang harus dicarikan penyelesaiannya melalui kerjasama kelompok dan meyakinkan tiap anggota dalam kelompoknya mengetahui jawaban kelompok. Pada tahap akhir, siswa yang nomornya disebutkan oleh guru mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

 

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)

Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) memiliki kelebihan dan kekurangan sebagaimana kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh model pembelajaran kooperatif pada umumnya. Beberapa kelebihan model pembelajaran kooperatif, antara lain dikemukakan oleh Marhamah (2008) yaitu:

  1. Tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
  2. Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
  3. Dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
  4. Membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
  5. Dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).
  6. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir.Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.

Disamping kelebihan-kelebihan yang telah dijelaskan di atas, para  ahli mengungkapkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan keterampilan berpikir kritis (Trianto, 2009: 59).                                 

Adapun kekurangan-kekurangan model pembelajaran kooperatif berdasarkan pendapat Marhamah (2008) yaitu:

  1. Penilaian yang diberikan didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
  2. Siswa dituntut dapat melakukan perubahan kebiasaan cara belajar yang semula menerima informasi dari guru secara apa adanya, menjadi cara belajar yang membiasakan siswa belajar mandiri dan berkelompok dengan mencari dan mengolah informasi sendiri. Mengubah kebiasan bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan.
  3. Guru juga dituntut mengubah kebiasaan mengajarnya yang umumnya sebagai pemberi atau penyaji informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Ini pun bukan pekerjaan yang mudah karena umumnya guru merasa belum mengajar dan belum puas jika tidak banyak menyajikan informasi (ceramah).
  4. Metode ini banyak memberikan kebebasan kepada siswa dalam belajar, tetapi kebebasan itu tidak berarti menjamin bahwa siswa belajar dengan baik dalam arti mengerjakannya dengan tekun, penuh aktivitas, dan terarah.
Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) | admin | 4.5